Kisah Dani H

 Tiga tahun berlalu sejak kami sepakat untuk mendirikan Komunitas Lubang Jarum sendiri, dan bermarkas di Gowongan Kidul, Yogyakarta. Berawal dari workshop KLJ yang pertama diJogja oleh Kang Ray, kami muncul dengan anggota yang terdiri dari beberapa peserta workshop tersebut. Sebagian besar anggota merupakan mahasiswa yang mendalami fotografi dan berasal dari berbagai disiplin ilmu, selain itu, terdapat beberapa fotografer profesional, wartawan, akademisi, hingga hobiis foto dari berbagai kalangan dan usia. Tercatat sejak saat itu, 2 kali pameran lokal yang pertama diselenggarakan di Griya Kedaulatan Rakyat dan yang kedua digedung ELTI, serta 1 kali pameran nasional diGaleri I See, Menteng Jakarta Pusat. Selain pameran juga dilakukan 4 kali workshop, juga belasan pelatihan untuk anak-anak, remaja, hingga dewasa dimana dari ajang ini muncul anggota-anggota baru. Sekilas terlihat cukup sibuk bagi komunitas masih muda ini, tetapi itu terjadi karena memang ilmu ini selalu saja menyisakan banyak celah untuk digali dan dibagi.

safe_image.php

Suatu ketika, setahun lalu saya memotret dengan kaleng diatas bangunan pulau cemeti, sebelah selatan Keraton Yogya, untuk mendapatkan pemandangan situs Taman Sari dari ketinggian. Sudut ini, karena sudah terlalu sering diambil, sehingga banyak teman pemotret yang memutuskan bahwa sudut ini tabu untuk difoto. “Tapi tentu belum dengan klj”, begitu pikir saya. Ini, bukan apologi loh, tapi segala tampilan gambar yang pernah saya lakukan dengan kamera biasa, selalu berubah bentuk dan kesannya bila difoto dengan KLJ. Karena pemotretan yang memakan banyak waktu, pelan-pelan saya teringat pada pameran pertama komunitas ini diGriya KR Jl. P. Mangkubumi satu tahun sebelumnya. Pada hari pembukaan kami langsung menerima sejumlah omongan pedas terutama pada masalah hasil foto yang tidak jernih serta hal yang diduga penonton sebelumnya sebagai sekedar pameran efek cembung, bahkan ada yang menawari kami untuk les motret. Tetapi rata-rata berubah pikiran setelah mata mereka tertuju pada alat-alat KLJ yang dipamerkan ditengah ruangan, melihat alat yang digunakan juga kejutan bahwa beberapa peserta pameran ternyata masih anak-anak. “Yang bener saja kaleng gini dipake motret, bagus sih kalo memang bener”, kata seorang penonton terkesan tidak percaya. Sesi berikutnya sarasehan, yaitu tanya jawab sebagai arena untuk menuai kritik secara formal, hanya terisi dengan pertanyaan teknis seputar pembuatan dan pemakaian kamera. Ini sebenarnya suatu kejutan, banyak diantara kami sebenarnya sudah menyiapkan segudang jurus untuk menangkal pertanyaan sulit hingga latihan tanya jawab karena publik yogya yang terkenal garang dalam kritik-mengkritik, tapi wajah teman-teman yang sebelumnya tegang semenjak pagi sudah saling bercanda sambil menggulung tikar sisa sarasehan. Esok paginya, beberapa teman mengirim sms untuk melihat halaman belakang sebuah koran lokal, sebuah foto berwarna cukup besar, menunjukkan wajah heran walikota jogja Herry Zudianto mengamati sebuah kaleng bekas susu yang disulap jadi kamera cukup mewakili rasa puas kami pada pameran pertama tersebut.

Oh ya, btw masih diatas Taman Sari. saya tiba-tiba sadar dari lamunan karena suara-suara dibelakang dari pelajar-pelajar SMU negeri diGunung Kidul (salah satu kabupaten diYogya) yang sedang studi wisata sudah berkerumun dibelakang saya sambil mencermati setiap gerak-gerik dan peralatan saya yang bertebaran. Salah satunya kemudian bertanya, apakah ini kamera lubang jarum yang pernah mereka dengar (bukan baca) dari sebuah koran lokal. Tentu saja langsung saya jelaskan dengan antusias segala pertanyaan mereka sambil tidak lupa memotret. Ada dua pertanyaan utama yang muncul, pertama pertanyaan yang ditunggu-tunggu, “loh kok kaleng susu bisa dipakai motret ya”, dan yang kedua juga sering muncul, “kenapa harus motret seperti ini, kan njlimet (rumit)”, tanya mereka. Yang pertama, jawaban favorit saya adalah ciptaan senior kami Edial Rusli sangat mengena sekaligus menggelitik. “Tentu bisa, memotret dengan kaleng, yang ndak mungkin, kalo motret dengan susu”, yang mereka sambut dengan gelak tawa. Tapi sesi yang cair ini segera berakhir karena sang guru pembimbing memanggil mereka untuk bergerak ketempat lain. Ini tentu sebuah kejutan karena tanpa disadari KLJ sudah sampai kepelosok Jogja yang terjauh, apalagi Gunung Kidul sebagian besar wilayahnya terpisah oleh kelompok perbukitan yang curam sangat terisolasi dari pengaruh luar, adalah juga karena kondisi medan yang sulit ini sehingga kami selalu menunda untuk melakukan tour pemotretan dan memikirkan berbagai trik untuk menjangkau daerah tersebut. Hari-hari berikutnya kami mulai merancang beberapa ide, seperti changing bag dengan lubang kepala, lubang tripod pada kamera kaleng, juga peralatan kamar gelap portable, dengan harapan bisa dibawa dalam ukuran-ukuran yang kecil dan terpisah sehingga pemotretan bisa dilakukan ditempat yang dulu belum terjangkau.

Tulisan  ini di buat tahun 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s