Lubang Jarum Liang lahat/Lejat

Mati adalah pasti, tetapi bukan akhir, tetapi awal dari balasan perbuatan selama menikmati hidup didunia

Buku Pameran

Cover Photo Pameran Liang Lahat

Jauh diperadaban sebelum masehi, nun jauh disana, ratusan tahun yang lalu, festival kematian merupakan bagian dari ritual perayaan bangsa Aztec, yang diperuntukan mencari keberkahan dewa yang disebut Mictecacihuatl. Hingga ratusan tahun kemudian, menyebar ke beberapa belahan Amerika latin, seperti Brazil, Spanyol dan Meksiko. Perayaan kematian, disebut Día de los Muertos atau hari kematian di Meksiko, diperingati untuk mengenang kembali sanak saudara dan keluarga yang telah tiada. Bentuk pemaknaan ini, tentu saja mengingat kembali kebaikan, amal perbuatan yang telah di torehkan almarhum, baik itu kepada kerabat maupun lingkungan sekitar, semasa ia masih hidup.

Jadi perayaan kematian tersebut bukan untuk disesali, namun disikapi kemudian dilanjutkan pada generasi seterusnya. Jadi jelas, mati bukan berarti selesai, tetapi mewariskan pahala, yang diukur dari semasa masih menghirup udara di muka bumi ini. Tetapi sebaliknya, nilai tersebut kini telah kehilangan maknanya di republik ini. Pergeseran nilai tersebut lambat laun digerus dengan kompromi dan kepentingan-kepentingan. Lihat saja banyak peristiwa yang kini semakin tidak masuk nalar, seakan negeri telah salah langkah. Sebut saja perkeliruan aset negara yang diselewengkan trilyunan, yang hingga kini belumlah tuntas, malahan saling tunjuk hidung antara wakil rakyat dan pemerintah. Penganiyayaan dan kekerasan karena berbeda pandang dalam melakukan praktek ibadah, pembunuhan sistematis terhadap komisi pemberantasan korupsi, penhancuran kantor pengadilan karena penistaan agama, kekeliruan pemerintah kota yang memohon maaf karena salah pilih cat untuk batas garis sepeda/bike line, sikap premanisme bupati yang mengerahkan aparat pemerintahnya berunjuk rasa, karena takut diperiksa Kejati Jabar, atau mafia pajak yang salah pilih rambut palsu, hingga aksi cakar-cakaran dua artis bahenol yang menjadi konsumsi publik, bahkan diangkat di layar lebar! Mengerikan sekali.

Menyikapi peristiwa tersebut, harus dihadirkan “pengingat kolektif” yang tidak haruslah berupa jargon-jargon dan hiasan kata-kata yang dirangkai kemudian dipancang di pinggir jalan, karena pembaca telah lelah menerima informasi iklan yang menyesatkan.
Pesan pengingat tersebut dihadirkan dalam bentuk visualisasi fotografi. Media ini sangat pantas untuk dihadirkan, karena terbukti sangat mudah diterima dan diingat. Namun kini, fotografi memiliki dilema, bahwa gambar bisa berbohong! Sangat sulit untuk mempercayai bahwa foto dianggap sebagai perwakilan realitas, dimasa kini, maka perlu dihadirkan proses alternatif, teknik perekaman yang lugas tanpa label “menipu”. Maka metode lubang jarum paling pas untuk dihadirkan sebagai karya dalam pameran kali ini.

Gelar karya sesuka hati ini tidaklah semena-mena, tetapi merupakan hasil diskusi panjang, bahwa selama ini fotografi alternatif kurang begitu bersuara. Maka kawan-kawan di Pinhole Bandung, yang menauingi Komunitas Lubang Jarum Indonesia Bandung/KLJI Bandung dan Kamerapinjaman.com/KAMPI bermaksud menawarkan bentuk opini melalui karya luban jarum. Kegelisahan yang sama, kemudian diproyeksikan bersama-sama, melalui lubang jarum, sebuah pernyataan aksi prihatin atas kondisi negeri ini. Memanglah tidak ada niatan untuk memperkeruh situasi kini yang jauh dari kondusif, namun setidaknya, melalui teknik ungkap fotografi alternatif ini, mampu “mengingatkan” penikmat karya. Fotografi akan tidak penting lagi, bila pelihat berhasil menyimpulkan makna foto menuju perubahan yang lebih baik, bila gagal, berarti karya tidak komunikatif.

Terdiri dari 17 karya hasil seleksi, dari 16 pemotret; Agung Rahmadi Aryadi dan Melvina Pramadya dari Solo, Ali Sutamsar dari Aceh, Dani Siswardhani Wahjono dari KLJI Jakarta, Abdulah Rofi’i dari Gresik, dan mereka dari Bandung adalah Denny Nurakhman, Deni Sugandi, Deni Rahadian, Gilang A Ramadan, Gun Gun Nuryadin, Hani Rosidaini, Ivan Arsiandi, Roni Syahron Fajar, Benny Kurniawan, Vera Ridzka A dan Willi. Semua karya menggunakan bentuk dan ragam kamera yang berbeda, disesuaikan dengan efek yang dihasilkan. Bentuk kamera tersebut dirancang kemudian dirakit untuk kepentingan pameran. Bentuk bisa berupa kubus, memanjang, silinder hingga bentuk setengah lingkaran. Masing-masing disesuaikan dengan ukuran media kertas foto. Material kamera berasal dari limbah karton atau dari bentuk yang sudah ada, kemudian dimodifikasi. Karya yang didominasi hitam putih ini, menggunakan kertas foto ukuran 9×14 cm multi coated dan satu karya berasal dari negatif warna tenik Red Scale. Bentuk kamera pun beragam, mulai dari bentuk dasar kotak, hingga menggunakan dua lubang, untuk menghasilkan teknik blending.

Sumber : http://kamerapinjaman.com/catatan-pameran-memaknai-kematian-di-ujung-jarum/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s